Tangkilan Bersama

Tangkilan Bersama 2018: Pura Parahyangan Agung Jagatkarta,Alam Dewata Suci Sempurna

Om Swastyastu
Namo Buddhaya

Pepatah menyebutkan bahwa sejarah merupakan alat untuk pemesartu bangsa dan Bapak Proklamator kita, Presidan Soekarno, menyebutkan Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Hal itu harus ditanamkan pada generasi kita yang akan mendatang bahwa jangan sekali-kali melupakan apa yang sudah terjadi di masa lalu supaya kedepannya kita akan memiliki acuan dalam melakukan sesuatu.

Pura Jagatkarta terletak di kaki Gunung Salak, Desa Ciapus, Kecamatan Tamansari di Kabupaten Bogor. Pura Jagatkarta bagi wisatawan terkadang disebut dengan Pura Gunung Salak. Pura Jagatkarta dibangun di kaki Gunung Salak karena konon Pakuan Pajajaran Sunda pernah berdiri di lokasi tersebut. Pakuan Pajajaran adalah ibukota Kerajaan Sunda Galuh, Kerajaan Hindu terakhir di Nusantara (bersamaan dengan Kerajaan Majapahit) yang mengalami masa keemasannya di bawah pemerintah Prabu Siliwangi, sebelum ditaklukkan oleh Muslim Jawa pada abad ke-16.

Maka dari itu, untuk menambah wawasan tentang kisah yang ada sebenarnya dibalik pembuatan Pura Gunung Salak sekaligus melakukan persembahyangan bersama, Keluarga Mahasiswa Hindu dan Buddha melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta pada tanggal 16 Desember 2018. Selain persembahyangan bersama, disuguhi juga dharma wacana yang menjelaskan tentang “Generasi Umat Hindu yang tidak boleh lain dari jalannya”. Maksudnya yaitu agar Umat Hindu untuk tidak melupakan agamanya karena jika saja melupakan agamanya, maka konsekuensinya melupakan leluhurnya sendiri.

Berikut merupakan recap tangkilan bersama ke Pura Parahyangan Agung Jagatkarta

Gunung Salak / Google Photos

Sepercik pesan yang kami dapatkan dari Pura Jagatkarta yaitu:
“Sedikit percikan perubahan yang diberikan, kedepannya akan menjadi bukit perubahan tersebut”

Sampai Jumpa di tangkilan bersama 2020 mendatang

Om Santih Santih Santih Om